Yang Pertama-tama Akan Aku Ceritakan Tentang Pulang Kampung

Perjalanan pulang kampung kemarin bagiku adalah perjalanan tergugup yang pernah aku alami, setelah perjalanan yang hampir lima tahun silam menuju Jakarta untuk pertama kali. 

Sebuah penantian yang tak mudah. Berangkat jauh dari rumah untuk pertama kali dalam hidup, menghadapi banyak kondisi yang sebelumnya tak pernah dijangkau rencana. Hal terberat waktu itu adalah tinggal jauh dari kedua orang tua, sebuah hal klasik namun selalu yang terberat ketika dihadapi. Memutuskan menjalani hari-hari jauh dari keluarga dan kawan baik. Jauh dari kota kelahiran atau dari kota tempat pertama kali jatuh cinta dan mengenal banyak hal untuk pertama kali adalah sebuah perjuangan yang tidak sepele.

Pulang kampung kemarin adalah sebuah perjalanan rasa syukur tentang keinginan untuk hidup, bertahan dan menghadapinya. Di sepanjang jalan dari rumah Bogor menuju bandara, di ruang tunggu dan tiap sudut bandara, selalu ada sekelebat ucapan yang lirih, ucapan yang jika dialami di tempat ini, suasananya begitu berbeda. “Selamat datang dan selamat tinggal”. Dua kalimat berbeda yang artinya sama. Sama-sama butuh air mata ketika diucapkan. Dulu sejak remaja, tak pernah terbesit akan berurusan dengan tempat semacam ini.

Bandara. Sama seperti rumah sakit dan ruang bersalin. Namun bandara bagiku adalah semacam pintu ajaib, tempat segala perasaan bercampur aduk menjadi satu. 

Di rumah, dengan waktu yang singkat, aku memanfaatkan segala yang ada. Tak seorang pun kawan yang kutemui, aku benar-benar melampiaskan rindu akan rumah dan segala isinya. Memanjakan mataku melihat Ibu dan Bapak, mengambil waktu bersama adik-adikku yang telah tumbuh jadi dewasa. Tak ada yang berubah dari rumah ini. Kehangatan yang tak akan pernah lagi aku jumpai di keluarga lain, kecuali aku menciptakannya sendiri bersama istriku, Ali dan adik-adiknya kelak.

Rumahku adalah simbol kegigihan Ibu dan Bapak menyekolahkan anak-anaknya. Termasuk aku. Kami anak-anaknya dari kecil tahu persis seperti apa kondisi keluarga. Ibu dan Bapak selalu terbuka dan melibatkan kami dalam segala urusan rumah. Dari kondisi keuangan sampai keputusan-keputusan kecil, kami selalu dilibatkan. Di rumah tak ada pembagian tugas, semua pekerjaan laki-laki bisa dikerjakan perempuan dan sebaliknya. Dilakukan bersama-sama selama kita sanggup.

Tak ada yang berubah dari rumah ini. Bata merah yang masih telanjang, lantai kasar dan langit-langit terpal masih yang dulu. Sesekali debu yang beterbangan menyadarkan lamunanku. Andai saja satu diantara kami bersaudara ada yang putus sekolah, kondisi rumah ini akan jauh lebih rapi dari rumah-rumah tetangga. Namun bukan itu yang membuat Bapak bangga, bukan rumah atau apa pun yang mewah. Selalu kuingat pesan Bapak bahwa tak ada warisan yang bisa kutinggalkan untuk anak-anakku kecuali pendidikan dan budi pekerti yang baik. Baginya pendidikan adalah pintu menuju ke mana pun. Bapak hanya ingin mewariskan sesuatu yang tak bisa dicuri dan dirampas. Dan itu adalah ilmu.

Di rumah, tak ada yang lebih penting kecuali pendidikan. Mereka rela menahan membeli apa pun jika itu menyangkut pendidikan. Kebanggaan tertinggi dan semangat Bapak adalah tentang sekolah anak-anak.

Ibu dan Bapak tak lagi muda dan selincah dahulu. Segala macam keluhan di tubuh mulai muncul satu-satu. Kehadiran Ali cucu pertama mereka adalah semacam obat dan pil energi yang dinanti-nanti. Terlihat jelas binar haru di wajah mereka. Begitu pun dengan Ali dan Ibunya. Bagi mereka, segala hal di rumah dan kampung ini seperti baru saja diciptakan untuknya. Segalanya tampak baru dan mengejutkan. Makanan, kebiasaan, alam atau cuaca adalah hal-hal yang begitu berbeda dari kota yang selama ini Poppy alami. Dia tak menyangka ada daerah kecil yang jauh di timur tak pernah terdengar sebelumnya begitu menyenangkan untuk dikunjungi.

Banyak hal yang ingin aku ceritakan. Salah satu diantaranya adalah beberapa buku catatan yang berisi jurnal dan puisiku yang ditulis beberapa tahun sebelum aku memutuskan berangkat ke Jakarta saat itu.

Pulang kampung kemarin meski singkat, menyembuhkan banyak luka lama. Memecah kerinduan, melihat diriku kembali, melihat Ali dan Ibunya lebih dalam, melafazkan lagi janji-janji yang belum ditunaikan. Dan yang terpenting dari segalanya adalah memasangkan lenganku di tubuh Ibu dan Bapak. 

Komentar

Postingan Populer