Rabu, 15 Mei 2019

Melupakanmu Dengan Begitu Tenang

Betapa waktu yang singkat itu adalah hujan. Betapa segala kalimat yang bertemu waktu itu kini tumbuh menjadi kenangan kecil. Tumbuh menjadi desahan nafas yang singkat mulai saat kau tarik pipimu hingga berujung senyum yang mungil. Kau sedikit memindahkan kata-kata dan pertanyaan ke telingaku dan aku pura-pura kurang mendengar lalu kau ulangi sekali lagi.

Kini malam telah jadi tempatku berlindung dari prasangka rasa yang bias. Aku menyesal tak bisa menikmati waktu berlama bersama ceritamu. Siapa yang menyangka jika kau pun ingin? 

Kau jelas tak tahu bagaimana aku telah mati selama tiga tahun dalam tubuh seseorang. lalu bergentayangan di dalam dirimu. Kau begitu menakutkan buatku, hingga aku tak sanggup untuk berpikir dan melibatkanmu di dalamnya. Aku memahami jika kenangan yang kubawa selama ini adalah batas antara masa lalu dan masa kini. Keduanya bisa kusentuh namun tak sanggup kurengkuh bersama-sama. Kedua sisinya selalu saja ada yang menyakitkan dan ada yang menyenangkan. Mungkin lain cerita ketika aku memaknainya sebagai jembatan yang menghubungkan perihal segala yang sebentar lagi akan dilupakan.

Akhirnya kita kini berhasil terdampar pada tempat asing kita masing-masing. Bedanya, saat kau jatuh dan ingin pulang ke sesuatu yang selalu menunggumu, aku bukan lagi tujuan itu. Namun aku sebaliknya, kau adalah sesuatu yang selalu jadi rumah di antara segala pengalaman mencintai yang begitu menyedihkan. Aku berjanji akan kembali menemukanmu pada diri orang lain.

Selasa, 07 Mei 2019

kapan kau akan pulang.

kapan kau akan pulang,
bukankah di sini tempat kau seharusnya
tak ada puisi yang sanggup kujahit
untuk jadi sapu tangan air mataku
kata-kata rasanya sudah musnah
hanya cemas yang semakin ada-ada saja
dan kau, apakah kau juga?

kapan kau akan pulang,
yang kumau hanya sekedar datang
lalu kau bertanya, atau menjelaskan
tentang hak asuh mimpi-mimpi kita
atau menjelaskan 
segala yang tak sanggup kujelaskan sendiri

kapan kau akan pulang, 
agar kita bisa berpisah lagi
setelah 'selamat tinggal' benar-benar sempurna 
sebagai kalimat yang paling terakhir.

Selasa, 30 April 2019

Bangunkan Aku Sebagai Anak Kecil Yang Tertidur di Gendongan Ibu

Hidup ini selalu saja lucu dengan harapan-harapan yang kadang tak tersampaikan, dengan rencana-rencana yang berantakan atau dengan cinta yang (masih) tidak membebaskan. Ingin kupecahkan kepalaku sendiri dengan cara berpikir sekeras-keras nya atau kupecahkan dengan tanganku sendiri. Akan kulakukan di sudut tersunyi bumi ini, yaitu di ketidakpedulian orang lain.

Kuharap ini kejatuhan dan kehancuran yang terburuk sekaligus yang terbaik, agar aku bisa memperbaikinya kembali sebaik-baiknya lagi dari awal. Manusia memang hanya memiliki satu nyawa. Namun, ia bisa mati berkali-kali dalam satu kali kehidupan, ketika dalam himpitan kesendirian dan ketidakberdayaan. Bisa kembali lebih mati ketika ia dilupakan setelahnya.

Apa yang hidup adalah apa yang diingat, apa yang abadi adalah apa yang tetap selalu bisa dirasakan.

Yang membedakan kita dengan segala yang ada di alam semesta ini adalah apa yang berbicara di dalam diri kita masing-masing. Ia adalah sesuatu yang sanggup menembus kedalaman segala yang bernyawa dan tidak bernyawa sekaligus. Kita tak perlu berdebat tentang siapa yang paling sunyi di dunia ini. Apakah udara malam atau langit tanpa bintang-bintang.

Aku berdiam seorang diri di sudut tersunyi seperti malam-malam sebelumnya. Musik yang murung kubiarkan berjalan perlahan di kepalaku. Angan-angan mengepul membentuk benteng raksasa yang keras seperti kemustahilan yang nyata. Padahal ini hanya angan-angan. Hanya fantasi dan imajinasi yang berlebihan di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang jelas nyata. 

Jangan bangunkan aku sampai kematianku tiba. Hidup ini terlalu nyata sebagai kekacauan dan terlalu mimpi sebagai kebebasan. Tidurkan aku dalam sajak-sajak tentang manusia masa lampau yang berburu dan bercocok tanam di alam bebas. Bangunkan aku sebagai anak kecil lagi yang masih belum sanggup menyeka ingus dan tertidur di gendongan ibu. 

Teruntuk Kau Yang Siapa?

Teruntuk kau yang jauh,
aku rindu ketika kau menceritakan apa saja yang sedang kau bayangkan ketika bertemu denganku. Aku rindu bagaimana kau dengan bahagia menceritakan segala rencana kecil bagaimana kita akan melewati siang dan malam yang singkat berdua ketika bertemu nanti.

Teruntuk kau yang pemberani,
aku belum pernah menemukan perempuan sepertimu yang tak peduli kemungkinan-kemungkinan terburuk masa depan. Kau memiliki segala keberanian yang tidak dan ingin kumiliki jua. Aku berpikir bahwa kau sedang menyia-nyiakan waktu dan keberanian itu untuk orang yang tak layak kau beri. Akulah orangnya, yang menyia-nyiakanmu. Kau adalah permata yang bersinar di tengah kerumunan orang-orang buta.

Teruntuk kau yang maha tawa, 
izinkan aku mengingat suara-suara bahagiamu. Akan kusimpan baik-baik sampai aku benar-benar menua dan tak lagi bisa mendengar apapun, termasuk suara hatiku sendiri. Kau adalah suara angin di tengah hutan yang lembab dan teduh. Di sebuah tempat jauh dari kotamu, selalu ada  sepasang mata yang terpejam ketika mengenang segala tentang rencana lampau.

Teruntuk kau yang segala, 
menarilah dalam kesedihan. Kau harus tahu bahwa hidup ini kadang tidak sebaik yang kita pernah bicarakan. Hidup ini tidak selalu memihak pada orang-orang seperti kita. Namun pada lain hal, aku ataupun kamu tak pernah saling memberi ampun pada siapa saja yang menyerah. Apa yang kumaksud ini adalah sesuatu yang bukan akhir. Ini bukan sesuatu yang tak bisa  kita pecahkan, bukan sesuatu yang tak sanggup kita tempuh dan bukan sesuatu yang mesti dibiarkan terkubur lalu selesai begitu saja. Aku percaya bahwa waktu bagaimana pun kejam dan pelitnya memberi kesempatan, akan selalu saja ada hal baik yang bisa kita rebut kembali.

Sabtu, 27 April 2019

Sepucuk Surat Yang Tak Pernah Terbaca

Malam itu aku pulang sehabis manggung di salah satu acara. Aku berharap segalanya tenang dan lega setelahnya. Aku tak habis pikir, perasaan aneh apa lagi yang menimpa dadaku. Aku terhempas jauh ke sebuah tempat asing untuk kesekian kalinya. Untuk beberapa kali, aku kembali merasa kosong kelompong. Aku tak merasa memiliki dan dimiliki oleh apa dan siapapun. Aku benci merasakan ini. Tak ada yang tahu dan menyadari ketika aku sedang berpura-pura hidup. Berpura-pura sebagai aku yang hidup.

Jarak terjauh yang pernah kutempuh dalam hidup ini adalah menyadari bahwa aku tak sanggup lagi merasakan cinta. Baik untuk diriku sendiri dan seseorang yang ingin kubanggakan sebagai kekasih. Tapi bukan, bukan itu intinya. Aku merasa jauh dari apapun akhir-akhir ini. Orang-orang yang kuandalkan perlahan berubah dan membangun jarak. Tanpa mereka sadari bahwa aku sedang terbunuh dalam kesalahpahamannya, dalam kepasrahan atau sisa-sisa perjuangan yang pernah mereka janjikan.

Sia-sia Tuhan menciptakan malam sunyi seperti ini tanpa puisi-puisi yang bisa kudekap. Tanpa tangan-tangan yang bisa kugenggam dan gari-garis bibir yang bisa kurasakan.

Aku hanya sanggup bertahan di tempat ini, tak berdaya menggapaimu, meski hanya dengan sekedar ucapan "bagaimana kabarmu?". Tak ada lagi jarak yang lebih jauh dari itu. Bahkan bintang-bintang meredup dan cahaya tak lagi jadi kebanggan matahari pagi.

Kau bisa menamaiku pengecut namun aku yakin aku bukan yang terburuk.

Entah untuk siapa surat ini akan kusampaikan. Aku ingin mengeluh di pundak mereka yang bisa merasakan ini. Aku tak bisa membayangkan siapa orang itu. Betapa menyedihkan menjadi kuat dan rapuh sekaligus dalam satu tubuh.

Surat ini tak memiliki seseorang yang akan ia tuju. Ia hanya berjalan seorang diri tanpa peduli seperti apa dunia ini. Namun ia tahu seperti apa rasanya dilupakan dan hidup bertahan dalam kalimat " esok hari tak akan seperti ini lagi".

Minggu, 21 April 2019

Sebuah Tempat Yang Tak Rapi

Aku merapikan kamar adik yang dulu pernah menjadi wilayah teritorialku. Menyusun beberapa buku tulis dan bacaan mereka yang berserakan. Begitu mirip dengan apa yang pernah kulakukan pada kamarku di saat-saat masih bersekolah. Aku meletakkan lampu baca pada posisi awas menghadap buku pada halaman yang akan kubaca sebentar lagi. Secangkir kopi panas yang asapnya mengepul, buku catatan kecil untuk referensi, buku catatan untuk hal-hal yang lebih pribadi serta pulpen telah bersiaga di depanku. Eh, tak lupa beberapa cemilan khas rumah juga sedang menunggu untuk kusambat sedikit demi sedikit dalam keadaan setengah sadar ketika larut pada halaman buku yang sedang kubaca. Semua sudah siap di hadapanku. Di dalam ruangan yang berdebu, lembab karena musim hujan dan juga dingin. Aku berusaha membuat suasana lebih tenang dan senyaman mungkin. Rumah adalah tempat terdekat yang bisa siapa pun jangkau untuk memenuhi kebutuhan itu. 

Aku sudah beberapa hari di rumah dan ini adalah pulang kampung terlama di luar bulan ramadhan, juga yang paling melelahkan. Pada siang harinya aku merasa bukan diriku. Aku memacu diri seperti dikejar hal-hal yang menggantungkan keberlangsungan hidup. Hujan dan panas terik adalah sahabat yang datang silih berganti. Yah, bukan hal yang mengejutkan lagi bagi kami. Bagi kami, keluarga kecil yang hidup dari segala hal yang berkebalikan dari kesibukan di kota.

Betapa menyenangkannya bagiku ketika malam tiba. Bukan karena waktu istirahat yang akan melimpah, melainkan aku akan merebut diriku kembali. Duduk manis di depan meja dengan lampu baca dan segala fitur pelengkap kebahagiaanku. Aku membuka lembar-lembar buku, menyimak setiap kalimat, mencatat yang perlu kucatat atau paling tidak harus kuingat sebagai ilmu yang kuyakin kelak akan sangat berguna. Tentu saja semua yang kulakukan tak pernah luput dari iringan musik instrumen piano yang menenangkan dari spotify. Aku melakukannya tanpa tekanan. Tanpa perasaan cemas seperti yang kurasakan ketika sedang berada di kota.

Aku lebih banyak mengurung diri ketika pulang kampung, setidaknya beberapa tahun ini. Teman-teman sudah tak seramai dulu lagi. Suasana tempat ini sudah berubah sejak lama. Semakin hari semakin asing dan menjadi tempat yang terasa tak pernah kudatangi. Rumah adalah pengecualian. Ini adalah tempat di mana segala obat sedang berada dan aku bermeditasi pada setiap detik berada di dalamnya.

Hmmm, aku menarik nafas panjang. Kurenungi setiap hal yang telah berlalu. Aku merasa sedang berjalan sendirian meski orang-orang terdekat tetap menyemangati dan rasanya mereka dikejauhan sana. Aku merasa semakin sendiri dan sunyi ketika mengingat bahwa aku sebentar lagi berulang tahun. Apakah akan tetap sama seperti sebelumnya. Berulang tahun berarti merayakan segala kesunyian yang ada.

Aku ingin menulis banyak hal. Tentang orang-orang baik yang kukenal. Tentang orang menyenangkan yang belum pernah kutemui atau orang-orang yang menganggapku bukan apa-apa dan gagal. Aku mencintai mereka. Mereka adalah pemberi hidup. Mereka adalah tempat untuk merawat, mencintai dan membuktikan. Kelak, akan ada yang tersenyum setelah menyebut namaku. Semoga.

Kamis, 18 April 2019

Memesan Sunyi Dalam Puisi

Jam baru saja menunjuk pukul 00.00, dan di rumah, aku baru saja tiba. Aku menuntaskan janji yang telah kuhadiahkan pada diri sendiri setelah seharian berlelah-lelah tanpa banyak mengeluh.

Aku menuju kota. Meski rencana ke pelabuhan gagal, aku berbelok menuju kedai kopi milik teman. Aku singgah di sana dan saling bertukar kisah dan kecemasan melalui perantara kopi dan asap-asap hangat yang mengepul.

Aku benci mengatakan ini, "aku tak mampu hidup dengan baik tanpa musik dan puisi-puisi yang menebar ketabahan". Meski ketabahan hanya milik 'hujan bulan juni'.

Aku pulang ke rumah membawa kelegahan dan semangat baik meski tak ada perubahan berarti. Kecemasan tetaplah kecemasan. Mungkin aku sudah terlanjur sombong memelihara mereka lewat kesadaran. Namun satu pelajaran sederhana yang kudapatkan malam ini bahwa aku perlu memesan kesunyian-kesunyian baru dalam puisi yang telah lama menumpuk dalam dada.

Aku sesekali menatap langit pada perjalan pulang. Lagu yang tabah kusetel santai dan motor bututku diam-diam menaklukkan jarak di jalan sunyi. 

Aku menatap langit dan berharap bisa menemukan wajah lama di sana. Meski tak ada apa pun yang nyata kutemukan darinya, aku yakin bahwa aku sedang menitip harap dan rindu di awan sana. 

Aku yakin jika seperti itulah puisi-puisi terlahir. Ada yang berhasil dituliskan dan ada pula yang hanya bisa dirasakan. "Aku harus melanjutkan hidup", kataku dalam hati sesaat setelah menyadari segala yang ada di depan sana.

Melupakanmu Dengan Begitu Tenang

Betapa waktu yang singkat itu adalah hujan. Betapa segala kalimat yang bertemu waktu itu kini tumbuh menjadi kenangan kecil. Tumbuh menjadi...